MENGINGAT AGAR TAK TERJATUH
Ulangan 9:8-17
Rudi suka berjalan-jalan di alam. Suatu kali, dalam pendakian ke Gunung Puntang, Rudi kehilangan arah. Di depannya terdapat semak belukar dan tidak ada jalan setapak maupun jejak kaki orang. Karena hari sudah mulai sore, Rudi memutuskan untuk turun kembali ke titik keberangkatan dengan mengikuti jejak kakinya sendiri. Menjelang hari gelap, Rudi tiba kembali di titik keberangkatan dan memutuskan untuk pulang ke rumah.
Bacaan hari ini merupakan ajakan Musa kepada bangsa Israel untuk melihat ke belakang, ke masa lalu. Di Gunung Horeb, saat bangsa Israel menantikan Musa yang sedang naik ke puncak gunung, mereka membuat patung anak lembu tuangan. Peristiwa ini merupakan kemurtadan massal. Musa mengajak mereka untuk mengingat kembali peristiwa tersebut. Allah hendak memunahkan Israel, bahkan menghapuskan nama mereka dari kolong langit. Akan tetapi, Allah tetap berbelas kasih. Ia tidak jadi memunahkan bangsa Israel. Namun, hal itu bukan berarti tidak ada konsekuensi dari dosa tersebut (lih. Kel. 32:35).
Dari kisah di atas, kita belajar tentang pentingnya menengok ke belakang, ke masa lalu. Tokoh Rudi dalam renungan ini menengok ke belakang dan menemukan jalan pulang. Demikian pula dengan kehidupan kita. Menengok ke belakang dan mengingat peristiwa di masa lalu menolong kita belajar dari pengalaman. Hal itu juga menolong kita agar tidak jatuh pada kesalahan yang sama. (Wasiat)
REFLEKSI:
Mengingat masa lalu bukanlah untuk tinggal di sana, melainkan untuk belajar berjalan lebih bijak ke masa depan.